Woensdag 15 Mei 2013

puisi kenangan



Nih , puisi lagi ....
Kenangan yang Membekas
Kukira perjalanan ini hanyalah perjalanan menimbah ilmu semata
Namun , ternyata banyak kenangan yang tercipta
Kenangan  yang terjadi di kota Malang , kota yang penuh dengan hijaunya alam

Disana , kutemukan seorang  teman 
Seorang teman yang selalu membantuku ketika bersuka maupun berduka
Seorang teman yang selalu mengajariku bagaimana rasanya hidup dalam kesendirian

Aku juga telah menemukan seorang  guru
Ia  selalu sabar dengan kenakalan yang telah kuperbuat
Dan mengatasinya dengan canda guraunya
Sehingga ku merasa tak bosan jika diajarnya 

Dan  kutahu bahwa di kota ini segudang  flora dapat tumbuh
Namun , tak kusangka perasaanku pada seseorang pun juga dapat tumbuh
Perasaan yang berbeda dari  yang lain
Entahlah mengapa , jika ia menatapku , rasanya jantung tak bisa berhenti berdegup kencang    
Mungkin inilah yang namanya perasaan suka padanya

Namun , berat rasanya ketika berpisah dari kota ini
Dimana Air mata selalu meleleh
Dan mulut rasanya terbungkam  oleh kesedihan

Saat inipun masih membekas kenangan itu
Kenangan indah yang berakhir dengan perpisahan

By : Balgysh Hajanah A.
Nih , aku bawakan informasi mengenai R.A Kartini . Hope u like it ya..


--ABOUT R.A. KARTINI--
Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Kartini bersama suaminya, R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat (1903).

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Sekolah Kartini (Kartinischool), 1918.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

R.A Kartini meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun. Diakhir Biografi R.A Kartini, Kartini banyak menuangkan ide, pengetahuan dan pengalamannya dalam sebuah buku, diantara tulisannya yang tertuang dibuku adalah sebagai berikut: Habis Gelap Terbitlah Terang, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya, An Indonesian Feminist 1900-1904, Panggil Aku Kartini Saja, Mandri dan suaminya, Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme.

puisi ''setengah jam saja''

Hai , chingu . nih , mau bagi-bagi puisi . . (* maaf kalao jelek ya ??)


Setengah jam saja .!

Bisakah kau menjauh darinya ?????sebentar saja…..!!
Apa kau tak tahu ,bahwa aku sangat menyukainya ….
Bisakah kau mengerti perasaanku ,,, secuil saja..!!...
Kutahu kau adalah seseorang yang disukai olehnya
Tetapi ,,,, bisakah aku dekat dengannya walaupun hanya setengah jam saja! …..

Kukira,,,kau adalah sosok  yang akan membantuku untuk dekat dengannya
Dan ternyata ,,, pada akhirnya ,,, kau hanya bisa mengatakan ‘’MAAF’’ padaku …..
Bagaimana aku bisa  menolak kata ‘’MAAF’’-mu !.....
Aku tak tega melihatmu sedih ,,,,,,, sahabat!!

By :Balgysh Hajanah A.